<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-25273978</id><updated>2011-04-21T15:03:49.785-07:00</updated><title type='text'>CREATIVE ONLY</title><subtitle type='html'>Hidup tidak diukur dari keberhasilan mencapai suatu jabatan atau sejumlah kekayaan tapi hidup diukur dari keikhlasan memberi sesama dan sabar menerima takdir</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://marasauli.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marasauli.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Marasauli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06108756662051573412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i60.photobucket.com/albums/h31/marasauli/PantaiPidie.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25273978.post-115060236816724256</id><published>2006-06-17T20:37:00.000-07:00</published><updated>2006-06-17T20:46:08.656-07:00</updated><title type='text'>Selayang Pandang Desa Bobane Igo dan Akelamo Kao</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;BOBANE IGO &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Desa Bobane Igo yang memiliki luas wilayah ± 300 Ha ini terbagi menjadi 2 RW dan 11 RT yang dibatasi oleh desa Dodinga di sebelah barat, desa Pasir Putih di sebelah timur, desa Tetewang di sebelah utara dan desa Sofifi di sebelah selatan. Masyarakat Desa Bobane Igo sebanyak ± 60% sebagai nelayan, ± 25% sebagai pedagang dan sisanya sebagai pegawai serta berkebun kelapa dan cengkeh. Selain warga pribumi dan warga pendatang lainnya di desa ini juga tinggal masyarakat dari suku Bugis sebanyak ± 45% yang bergerak sebagian besar di bidang perdagangan. Desa dengan jumlah pemeluk muslim 100% ini memiliki karekter yang terbuka, ramah dan kritis, mungkin kekritisan mereka karena ditunjang oleh perhatian warga terhadap pendidikan, sehingga warga di desa Bobane Igo banyak yang mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana dan mungkin secara prosentase lebih banyak jika dibandingkan dengan desa-desa yang lain di kabupaten Halbar ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Desa &lt;i style=""&gt;Bobane Igo&lt;/i&gt; (dalam bahasa Indonesia berarti Pantai Kelapa) berasal dari kata Toni Igo dalam pengertian bahasa Ternate berarti “banyak kelapa”. Suatu pemandangan yang tentu berkesan jika kita coba membayangkan suatu desa dengan pohon kelapanya yang berjajar di sepanjang pantai dan air teluk yang jernih, “Subhanallah………!?”mungkin itu yang akan terucap dari mulut seorang muslim ketika melihat keindahan desa Bobane igo&lt;span style="color: blue;"&gt;. &lt;/span&gt;Selain pemandangannya yang indah desa ini hasil lautnya pun melimpah dengan memberikan hasil berbagai jenis ikan, cumi, kepiting, kerang dan udang&lt;span style="color: blue;"&gt;. &lt;/span&gt;Namun beberap hari ini sering muncul buaya ±3 ekor dengan panjang 5 – 6 Meter, yang tentu saja meresahkan masyarakat dan sampai sekarang buaya–buaya tersebut masih berada di perairan sekitar desa,&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;Pak Jenggot melanjutkan kisahnya ketika masih kecil dalam waktu–waktu tertentu sering diadakan acara pemberian sesaji namun sekarang kebiasaan itu sudah tidak pernah dilakukan lagi, mungkin karena telah meninggalnya sang pawang buaya maka kebiasaan itupun turut sirna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Meskiupun keberadaan buaya tersebut belum pernah membuat warga kehilangan kambing atau menjadi korban namun kades tetap memberi peringatan kapada warganya untuk berhati–hati dan tidak lengah jika sedang berada disekitar mata air atau pantai terutama kepada anak–anak yang sering main ditepi pantai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selain keindahan pantainya desa Bobane Igo juga memiliki sumber air yang sangat melimpah yang tak pernah kering walau dimusim kemarau panjang sekalipun dan sumber air tersebut bisa langsung diminum karena berdasarkan hasil penelitian dari PDAM dan Dinas Kesehatan dikatakan steril. Sumber air ini menjadi asset desa yang tak terhingga dan ini merupakan berkah dari yang Maha Kuasa yang bermanfaat bagi masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berkah tidak hanya diberikan melalui sumber air tapi juga melalui rasa aman dan terhindar dari konflik yang terjadi di Maluku Utara beberapa tahun yang silam. Satu cerita yang cukup menarik ketika konflik ditempat lain pecah tetapi di desa Bobane Igo tidak terjadi konflik antar desa yang berbau sara meskipun desa-desa yang berbatasan dengan desa ini sebagian besar pemeluk kristiani bahkan ada salah satu desa yang 100% masyarakatnya umat kristiani&lt;span style="color: blue;"&gt;. &lt;/span&gt;Tidak terjadinya konflik di desa ini dikarenakan masih adanya hubungan kekerabatan yang dekat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara desa-desa yang bertetangga, bahkan seperti yang pernah disampaikan oleh kades Bobane Igo ada satu kesepakatan tidak tertulis antar 4 (empat) warga desa untuk saling bahu membahu menjaga desa dari ancaman penyerangan baik itu datangnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari dalam desa sendiri maupun dari luar, sebagai&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;contoh misalnya kalau ada sekelompok orang dari komunitas atau agama tertentu yang akan menyerang desa Bobane Igo yang penduduknya muslim maka sebelum sampai mereka sudah dihadang warga desa yang sama keyakinannya dengan si penyerang. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tidak hanya soal hubungan keamanan tapi haubungan social pun sampai sekarang masih berlangsung seperti apabila ada orang meninggal di salah satu desa itu, orang dari desa lain akan pergi ta’ziah (berkunjung ke rumah orang meninggal) walaupun agama yang mereka yakini berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Desa Bobane Igo adalah merupakan bagian dari enam desa yang menjadi perebutan antara Halbar dan Halut serta menjadi salah satu desa yang didampingi tim fasilitator pilot project P2KP. Perkembangan kegiatan pendampingan tin faskel di desa Bobane Igo sudah pada tahap sosialisasi awal dan RKM tingkat basis (RT dan komunitas lainnya) dan sampai saat ini dari 11 rt yang ada di desa Babane Igo baru 9 RT yang selesai. Proses sosialisasi awal dan RKM di 9 Rt yang sudah selesai memberikan hasil yang menggembirakan karena masyarakat sangat mendukung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;program ini. Dukungan ini mungkin dikarenakan secara konsep bagi masyarakat merupakan hal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang baru sehingga keingintahuan masyarakat terhadap program P2KP sangat tinggi, hal ini terlihat ketika diadakan sosialisai banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari 9 RT yang telah diadakan sosialisasi awal mereka menerima dan siap untuk berpartisipasi terlibat di dalam kegiatan P2KP. Dari 11 RT yang harus dilakukan sosialisasi tingkat basis ada satu RT yang letaknya terpencil tepatnya di RT 11 atau masyarakat biasa menyebut RT 11 ini dengan sebutan Bangkok, tentunya keadaan Bangkok yang ada di desa Bobane Igo tidak sama yang ada di Thailand karena Bangkok yang ada di Bobane Igo gelap sekali kalau malam hari serta jalannya becek dan licin jika selesai diguyur hujan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Pakai sandal….!?, sebaiknya dilepas aja deh kalau mau masuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke wilayah ini sehabis di guyur hujan” soalnya kalau tetap dipakai jangan-jangan nanti terpeleset ‘Nah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; kotor deh bajunya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;he…he…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kampung Bangkok ini jaraknya dari kantor desa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lumayan jauh karena apabila kita ke situ dengan mengendarai kendaraan motor kita harus memutar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jalan, mengikuti jalan ke arah desa Toniku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang jaraknya menurut penuturan warga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dari pusat desa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekra 7 km, tetapi kalau melalui jalan tikus/pintas jaraknya sekitar 4 km. Dari 11 RT yang ada di desa Bobane Igo, RT 11 inilah yang paling tertinggal, karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di wilayah ini belum tersentuh oleh pembangunan sarana dan prasarana, yang ada hanya sarana ibadah satu masjid dan satu sekolahan dimana pembangunan sekolah ini dilakukan oleh warga RT sendiri sedangkan dananya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;merupakan sumbangan dari “CARDI” ( NGO asing). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketersediaan air bersih bagi warga RT 11 selama musim hujan tidak menjadi masalah karena ada sumber air bersih yang dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, akan tetapi kalau dalam 1 bulan saja tidak turun hujan maka sumber air yang ada tidak keluar lagi, sehingga masyarakat harus mengambil air untuk keperluan sehari-hari dari mata air yang jaraknya sekitar 1 km. Sedangkan untuk sarana penerangan warga di RT 11 rata-rata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menggunakan lampu tempel, karena belum ada jaringan listrik dari PLN yang masuk di RT ini, sebenarnya di ujung jalan masuk jaraknya kira-kira 500 m sudah ada jaringan PLN, akan tetapi menurut warga yang ada dikarenakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;warga tidak mempunyai modal/dana untuk biaya penyambungan listrik PLN. sehingga pada malam hari suasana di wilayah ini gelap sekali. memang ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu keluarga yang agak berada, mereka menggunakan genset untuk pembangkit listrik skala rumah tangga yang dipergunakan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;secara&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; &lt;/span&gt;terbatas, artinya dinyalakan apabila ada keperluan-keperluan penting atau juga untuk menonton televisi. Bagi warga yang ingin menonton hiburan televisi mereka terpaksa merogoh koceknya sebesar Rp. 1000 sampai Rp. 2000,-. Biaya yang dikeluarkan ini bukan berarti mereka mengkomersilkan acara yang ada di televisi, tetapi semata-mata agar bisa menambah untuk beli solar untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;genset besoknya lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mata pencaharian warga di RT 11 adalah berkebun, dimana lokasi kebun mereka sebagian besar jauh masuk ke dalam hutan, sehingga apabila kita mau mengadakan kegiatan di masyarakat membuat jadwal ke masyarakat paling tidak 3 hari sebelum pelaksanaan, karena kebanyakan mereka tidak tiap hari pulang ke rumah, kebiasaan mereka pulang ke rumah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;setiap hari jum’at, sekalian untuk mengikuti sholat jum’at.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sehingga pelaksanaan sosialisasi tingkat basis di RT 11 sendiri baru terlaksana pada hari sabtu malam minggu tanggal 10 Junni 2006, dimana sebelumnya pada haru jum’at warga sudah diinformasikan akan adanya sosialisasi dari tim faskel. Ketika akan melakukan sosialisasi ini ada satu kejadian lucu yang menimpa faskel perempuan yang bernama Riyatni asal desa Bobane Igo , karena pada waktu kami hampir sampai di RT 11 ini harus menyebrang selokan kecil yang di atasnya di beri tempat penyebrangan dari kayu. Mungkin karena kayu penyebrangan kecil dan licin karena sehabis diguyur hujan sehingga motor yang dikendarai oleh seorang relawan yang membonceng Riyatni tergelincir masuk ke selokan tersebut. Peralatan sosialisasi pun semuanya menjadi basah dan Riyatni terpaksa pulang dulu untuk ganti baju yang kotor akibat tergelincir tadi. Namun kejadian ini tidak mengendurkan semangat beliau untuk terus melakukan sosialisasi tingkat basis meskipun pulang ke rumah sekira pukul 12:00 WIT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;AKELAMO RAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;“Akelamo” &lt;/i&gt;(atau dalam bahasa Indonesia berarti Sungai Besar) Raya adalah salah satu desa yang menajadi dampingan P2KP-3 berada di kecamatan Jailolo Timur kabupaten Halmahera Barat dan kecamatan Kao Teluk kabupaten Halmahera Utara. Satu hal yang tidak mungkin ketika ada 1 desa berada di 2 kecamatan dan 2 kabupaten yang berbeda, namun itulah kondisi yang terjadi di salah satu bagian dari Maluku Utara ini. Tarik menarik wilayah dan informasi lainnya tentang desa Akelamo Raya yang berpenduduk 100% muslim ini tergambar ketika tim fasilitator mengadakan koordinasi dengan kepala desa Akelamo Kao (Akelamo Raya, pen).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sepanjang perjalan kami mengucapkan Subhannallah karena kami merasakan kebesaran Illahi sang Maha Pencipta akan keindah alam-Nya ketika pertama kali fasilitator akan masuk ke desa Akelamo Raya untuk berkoordinasi dengan kades. Entah mimpi apa kami semalam karena tak diduga dan tak dinyana dijalan kami dicegat/dihadang oleh beberapa kelompok pemuda desa yang dalam keadaan mabuk minuman kemudian kami ditanya “Apakah mendukung ke Halmahera Barat atau ke Halmahera Utara?” Jika memilih Halmahera Utara kami disuruh turun dan jika memilih Halmahera Barat kami dipersilahkan untuk jalan terus. Karena sebelumnya kami mengetahui informasi tentang tarik menarik antara Halbar dengan Halut terhadap masyarakat di enam desa yang salah satunya adalah desa Akelamo Raya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hal yang membantu kami ketika kami ditanya hal tersebut ialah karena kami mengetahui informasi bahwa pada dasarnya mayoritas masyarakat desa Akelamo Raya memilih dan menginginkan bergabung ke Halmahera Barat dengan alasan karena selama puluhan tahun semenjak nenek moyang mereka hidup menjadi bagian dari kesultanan Jailo yang sekarang menjadi ibu kota kabupaten Halbar. Selain hal tersebut informasi tentang pelaksanaan pemerintahan pun menginduk ke Halmahera Barat, maka berdasarkan informasi tersebut kami menjawab bahwa kami mendukung keinginan/aspirasi masyarakat, lalu kamipun mengatakan maksud dan tujuan kami ke sini ialah untuk bertemu dengan pak kades Akelamo Raya. Jawaban yang kami sampaikan pada sekelompok pemuda itu nampaknya membuat mereka menjadi sedikit ramah dan mempersilahkan kami untuk meneruskan perjalanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya kamipun sampai dirumah pak kades setelah bertanya–tanya kepada masyarakat. Desa Akelamo Raya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menurut pak kades sebelum dibukanya tambang mas di desa Dum–dum semua masyarakatnya 100% adalah nelayan namun seiring berjalannya waktu hasil tangkapan ikan nelayan semakin berkurang, salah satu factor penyebab berkurangnya hasil tangkapan ikan ialah karena perairan sudah tercemar limbah buangan tambang mas. Dampak dari tercemarnya perairan Akelamo Raya biantang-binatang laut seperti siput,udang dan kepiting sudah susah didapati lagi,bahkan menurut pak kades kerang adalah jenis yang paling tercemar. Informasi tercemarnya perairan Akelamo Raya ini berdasarkan hasil penelitian dari sebuah lembaga yang bernama Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara. Hasil laut yang semakin berkurang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyebabkan banyak masyarakat yang beralih profesi atau berusaha di darat, sehingga sekarang yang masih bertahan menjadi nelayan ± 40% saja, 5% nya adalah pegawai dan sisanya ada yang bertani atau berdagang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Desa Akelamo Raya dengan jumlah penduduk 240 KK yang tersebar di 1RW dan 5 RT ini berbatasan dengan desa Pasir Putih dan desa Nusa Ambu (Halteng) di sebelah selatan, sebelah barat berbatasan dengan desa Tabobo (Halut), sebelah utara berbatasan dengan desa Dum – dum (Halbar) dan sebelah timur dibatasi oleh teluk Kao. Kondisi masyarakat desa Akelamo Raya saat ini sangat membutuhkan bantuan karena banyak dari mereka kehilangan pendapatan dan tidak tahu lagi harus berusaha apa karena laut yang dulu mampu menghidupi keluarga mereka sekarang tidak bisa lagi diandalkan, mungkin dengan masuknya P2KP pak kades dan segenap masyarakatnya berharap dapat menanggulangi kemiskinan yang selama ini membelit mereka,dan tidak lupa bahwa pak kades berharap kepada fasilitator untuk menyampaikan kepada pak presiden atau pemerintah pusat untuk melihat dan mendengarkan jeritan warganya yang menjadi korban dari kesewenang – wenangan perusahaan dan pejabat public yang tak pernah mendengar aspirasi warga desa akelamo raya yang tetap ingin berada diwilayah Halmahera Barat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kondisi politik yang ada sekarang menyebabkan siklus P2KP yang baru berjalan di desa Akelamo Raya adalah sosialisasi tingkat desa sedangkan untuk sosialisasi awal tingkat basis dan RKM masih menunggu kondisi masyarakat mulai reda, apalagi dengan adanya pemberitaan di salah satu surat kabar yang ada di Maluku Utara memberitakan bahwa Halut pun telah membentuk Kecamatan Kao Teluk dan melantik Camatnya membuat masyarakat Akelamo Raya (desa dimana kantor kecamatan Jailolo Timur berlokasi) semakin panas. Sulitnya masyarakat untuk berkumpul juga dipicu oleh kondisi di dalam desa sendiri dimana ada beberapa orang yang pro ke Halut, sehingga dikhawatirkan saat-saat masyarakat berkumpul diprovokasi sehingga terjadi perang kampung atau perang kelompok antara warga yang pro Halut dan warga yang pro Halbar. Satu hal yang cukup terasa dari kondiri pro dan kontra ini ialah nama “Akelamo Kao” menjadi “Akelamo Raya” karena etnis masyarakat Kao lebih mendukung ke kabupaten Halut, sehingga masyarakat mengusulkan untuk mengganti nama desa menjadi Akelamo Raya, selain hal tersebut masyarakat protes jika warga yang pro Halut diikutkan dalam kegiatan P2KP-3 meskipun warga tersebut tergolong miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Yaah…itulah realitas politik, selalu memakan korban khususnya kaum papa atau &lt;i style=""&gt;wong cilik&lt;/i&gt;, padahal yang bertikai adalah para penguasa pemegang dan pengatur politik”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kondisi politik vertical yang bisa saja menimbulkan kondisi konflik horizontal ini dapat menjadi pertimbangan bagi pemegang kebijakan P2KP-3 karena dikhawatirkan akan berimbas terhadap kegiatan dilapangan, semisal “SK PJOK” siapakah yang berhak ?, karena di satu wilayah ada dua kecamatan dan pimpinannya masing-masing di angkat oleh Bupati yang berbeda. Sedangkan P2KP-3 tidak berada pada salah satu sisi dari dua sisi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25273978-115060236816724256?l=marasauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marasauli.blogspot.com/feeds/115060236816724256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25273978&amp;postID=115060236816724256' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/115060236816724256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/115060236816724256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marasauli.blogspot.com/2006/06/selayang-pandang-desa-bobane-igo-dan.html' title='Selayang Pandang Desa Bobane Igo dan Akelamo Kao'/><author><name>Marasauli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06108756662051573412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i60.photobucket.com/albums/h31/marasauli/PantaiPidie.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25273978.post-114931465531286729</id><published>2006-06-02T23:03:00.000-07:00</published><updated>2006-06-02T23:04:15.373-07:00</updated><title type='text'>Pasukan Moloku Kie Raha</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pasukan Moloku Kie Raha&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inilah wajah-wajah para pasukan Moloku Kie Raha (dari kiri ke kanan: Kristiono, Hasni Usman, Riyatni Abbas dan Dani Budiana) ketika melakukan koordinasi dengan tim lengkap di markaz Moloku Jailolo (Koorkot Jailolo,pen), Halmahera Barat. Upaya rekrutmen pasukan Moloku Kie Raha (tim &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/440/2639/1600/CIMG0590.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 97px; CURSOR: hand; HEIGHT: 79px" height="67" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/440/2639/400/CIMG0590.jpg" width="80" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;faskel, pen) hampir memakan waktu 1 bulan, hal ini disebabkan karena kondisi kurangnya SDM putra daerah, sedangkan para sarjana yang pernah mendaftar dan bukan putra asli ketika mengetahui lokasi yang harus didampingi semuanya mundur secara teratur, sehingga penggalian informasi keberadaan sarjana sebagai calon faskel dilakukan secara langsung turun ke desa-desa dampingan sambil melakukan silaturahmi. Alhamdulillah akhirnya tim faskel pilot project di Kabupaten Halbar telah lengkap dengan masuknya Hasni Usman yang merupakan warga asli desa Sidangoli Dehe dan Riyatni Abbas yang merupakan warga asli Bobane Igo, bahkan salah seorang diantaranya yaitu Hasni Usman yang lebih dulu bergabung menjadi faskel telah melakukan sosialisasi awal di desa Bobane Igo bersama rekan-rekannya dari jawa. Dengan bergabungnya faskel lokal dalam melakukan sosialisasi awal banyak membantu faskel-faskel dari jawa, karena mereka dapat membantu menjelaskan tentang P2KP dalam bahasa Ternate, sehingga masyarakat mudah menangkap pesan-pesan P2KP yang disampaikan oleh tim faskel.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25273978-114931465531286729?l=marasauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marasauli.blogspot.com/feeds/114931465531286729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25273978&amp;postID=114931465531286729' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114931465531286729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114931465531286729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marasauli.blogspot.com/2006/06/pasukan-moloku-kie-raha.html' title='Pasukan Moloku Kie Raha'/><author><name>Marasauli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06108756662051573412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i60.photobucket.com/albums/h31/marasauli/PantaiPidie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25273978.post-114931397007161144</id><published>2006-06-02T22:46:00.000-07:00</published><updated>2006-06-02T22:52:50.236-07:00</updated><title type='text'>Sosialisasi Awal di Batu Karang</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sosialisasi Awal di Batu Karang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa 30 Mei 2006 pukul sembilan lewat beberapa menit WIT, aku dan rekan-rekan faskel bersiap-siap mengadakan perjalanan menuju ke Desa Toniku, karena pada hari ini mereka (rekan-rekan faskel, red) telah membuat janji dengan pihak aparat desa tersebut akan mengadakan sosialisasi awal pada pukul sembilan.&lt;br /&gt;“Oke temen-temen sekarang kita berangkat, kayaknya udah telat nih dan jangan-jangan udah pada bubar lagi…..!?” aku mengajak mereka untuk segera berangkat.&lt;br /&gt;“Ayo pak, kita udah siap dari tadi nih….!” Jawab temen-temen faskel.&lt;br /&gt;“Sory euy, tadi saya teu kuat hayang ka cai, nyeuri beuteung” jawabku pada salah seorang faskel yang berasal dari Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toniku merupakan desa pertama yang mengadakan sosialisasi awal pada program pilot project P2KP ini, aku tak ingin melewatkan pelaksanaannya dan melihat kondisi masyarakat di sana pasca konflik pada tahun 1999 ini. Perjalanan Toniku ditempuh dengan waktu kurang lebih 1 jam dari desa Sidangoli Dehe tempat base camp faskel, jalan yang dilalui sebagian besar sudah dihotmix dan melalui punggung gunung, sehingga banyak turunan dan tanjakan yang disertai dengan tikungan-tikungan yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekira dua kilometer lagi kami hampir sampai namun, perjalananan yang pendek ini terasa kurang nyaman karena jalanan yang kami lalui masih berupa tanah dengan batu-batu bahkan sebagian besar sudah berlubang-lubang. Kondisi jalan yang rusak akan semakin parah jika setelah diguyur hujan karena bagi kendaraan roda empat akan sulit masuk dan tentunya kendaraan harus ditinggal di ujung jalan ini yang berbatasan dengan jalan aspal, bahkan mungkin bagi kendaraan roda dua pun harus berhati-hati jika tidak ingin terjatuh. Jalan penghubung ke desa Toniku ini merupakan jalan di atas rawa-rawa yang ditimbun sehingga kondisi badan jalan belum stabil betul dan masih perlu dilakukan perkerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah payah kami harus melalui jalan ini, namun akhirnya kami pun sampai di desa tersebut. Suasana temapat sosialisasi awal sudah sepi hanya beberapa orang saja termasuk kepala desa yang masih menunggu kami di tempat semacam aula pertemuan tapi dengan suasana yang terbuka. Setelah bersalaman dan memohon maaf atas keterlambatan, maka tim faskel meminta pada bapak Kades kalau mungkin warga yang tadi sudah kumpul untuk dikumpulkan kembali karena pelaksanaan sosialisasi awal akan dimulai. Tanpa banyak bicara bapak Kades Toniku segera keluar dari teras tempat aula dan menuju tiang listrik.&lt;br /&gt;“Teng…teng…teng…teng…!!!”suara tiang listrik yang dipukul pak Kades.&lt;br /&gt;Tak lama berselang beberapa orang mulai berdatangan, namun masih dalam jumlah sedikit, mungkin mereka kesal karena tadi sudah kumpul tapi faskelnya belum datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu masyarakat berkumpul aku mencoba melihat-lihat kondisi desa nelayan ini. Nampak deretan alat penjemur ikan sederhana yang terbuat dari bambu dan di atasnya diletakan semacam jala atau jaring tempat ikan-ikan yang akan dijemur di bawah teriknya matahari. Di salah satu rumah seorang ibu sedang memilih dan memilah ikan-ikan yang akan dijemur, sedangkan di bagian lain nampak seorang laki-laki tua sedang memperbaiki jala yang rusak. Keras, kokoh, teguh dan tahan banting, itulah gambaran masyarakat Toniku sekeras dan sekokoh Toniku (Batu Karang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau khas menebar menusuk hidung dan nampak lalat-lalat beterbangan. Mungkin kalau ketika kita sedang makan dan teringat proses penjemuran ikan asin yang dilakukan oleh nelayan tradisional seperti di Toniku ini, barangkali kita tidak akan berselera menyanyap ikan asin yang telah tersaji dimeja makan, namun Tuhan Maha Adil kita diberi lupa tentang proses pembuatan ikan asin ini sehingga kita tetap lahap memakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teng….teng……teng……teng…. “kembali terdengar suara tiang listrik di pukul warga dan kali terdengar di beberapa tempat, rupanya beberapa orang warga beinisiatif untuk mengumpulkan warga yang lain, kemudian warga berdatangan lebih banyak lagi, baik laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua semuanya berkumpul untuk mendengarkan penjelasan tentang P2KP dari fasilitator. Sekira pukul sebelas lewat acara sosialisasi awal dibuka oleh kepala desa dan selanjutnya tim fasilitator menjelaskan apa dan bagaimana P2KP serta maksud dan tujuan P2KP ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama warga yang berdatangan bertambah banyak , sehingga ada beberapa warga yang menyimak penjelasan tentang P2KP ini duduk di luar teras dan beberapa orang duduk di lantai. Wajah-wajah lugu masyarakat secara serius memperhatikan setiap kalimat yang disampaikan oleh fasilitator, mungkin ini pertanda keseriusan mereka terhadap sosialisasi program ini atau karena mereka tidak mengerti kalimat-kalimat yang diutarakan tim faskel. Ketidakmengertian mungkin disebabkan karena bahasa Indonesia yang mereka gunakan ialah bahasa Indonesia pasar, sehingga ada beberapa perbedaan dengan apa yang disampaikan oleh fasilitator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang lebar tim faskel menjelaskan tentang program P2KP dan beberapa tahapan yang harus dilalui warga jika menerima program ini.&lt;br /&gt;“Baik bapak-bapak dan ibu-ibu sekarang kita masuk ke acara tanya jawab, barangkali ada pertanyaan tentang apa yang telah saya sampaikan”.&lt;br /&gt;Ajakan tim faskel di akhir sesi penjelasan belum mampu memancing warga untuk bertanya.&lt;br /&gt;“Atau bapak-bapak dan ibu-ibu masih bingung, kalau begitu saya akan menjelaskan ulang..” kata tim faskel setelah tidak ada satupun warga yang bertanya.&lt;br /&gt;Penjelasan ulang tentang P2KP lebih banyak menggunakan permisalan yang banyak dialami oleh mereka dan menggunakan kata-kata yang sedikit mengandung joke-joke, sehingga setelah penjelasan ulang ini berakhri beberapa warga mengajukan pertanyaan .Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan warga lebih banyak mengarah pada pemanfaatan dana BLM, namun tim faskel menjawab semua pertanyaan tersebut dengan bijak dan tak bosan terus menerus mengalihkan inti jawaban pada proses pemberdayaan dan pembelajaran, sehingga warga menjadi mengerti substansi program ini. Setelah selesai tanya jawab selanjutnya dilakukan penjadwalan sosialisasi awal tingkat basis di masing-masing RT, namun para ketua RT belum dapat memberikan jadwal karena harus berembug dulu dengan warganya dan informasi jadwalnya akan disampaikan ke kepala Desa.&lt;br /&gt; Proses sosialisasi awal tingkat desa Toniku  berakhir dengan suasana yang cukup menggembirakan karena pada awalnya kita khawatir warga masih dihantui oleh permasalahan kerusuhan di tahun 1999 yang lalu, namun hasil wawancara dengan kades tim faskel memperoleh informasi bahwa desa ini tidak terkena kerusuhan. Kondisi lokasi kerusuhan sebenarnya terjadi pada wilayah-wilayah yang masyarakatnya dari sisi agama telah bercampur antara islam dan Kristen, namun pada wilayah-wilayah yang 100% muslim dan 100% nasrani tidak terjadi kerusuhan dan pengrusakan bangunan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25273978-114931397007161144?l=marasauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marasauli.blogspot.com/feeds/114931397007161144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25273978&amp;postID=114931397007161144' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114931397007161144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114931397007161144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marasauli.blogspot.com/2006/06/sosialisasi-awal-di-batu-karang.html' title='Sosialisasi Awal di Batu Karang'/><author><name>Marasauli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06108756662051573412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i60.photobucket.com/albums/h31/marasauli/PantaiPidie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25273978.post-114887540010585400</id><published>2006-05-28T20:54:00.000-07:00</published><updated>2006-05-28T21:03:20.486-07:00</updated><title type='text'>Lanjutan Kabar Halbar</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;Suatu hal yang wajar jika Jailolo sebagai ibu kota kabupaten Halbar dikatakan masih belum pantas karena Jailolo baru saja 3 tahun menjadi ibu kota kabupaten Halbar, meskipun terkadang kita berpikir bahwa banyak ibu kota-ibu kota kabupaten di wilayah yang lain seperti di wilayah barat Indonesia kemjuannya jauh jika dibandingkan dengan wilayah timur, meskipun usianya sama. Getir memang jika kita melihat kondisi ini, bahwa perhatian pemerintah masih relative konsen terhadap pembangunan wilayah barat dibandingkan wilayah timur, padahal secara kandungan kekayaan alam wilayah timur tidak lah kalah. Banyak potensi yang belum dikembangkan di wilayah timur ini dan mungkin khususnya di wilayah kabupaten Halbar ini alam yang cukup asri masih terbentang luas dengan keanekaragaman kekayaan alam yang terkandung baik di atas bumi maupun di dalam perut bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembangunan wilayah timur dapat dikatakan amat sangat tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah barat, apakah ini menandakan ketidakpedulian pemerintah terhadap warganya di wilayah timur yang juga manusia memerlukan peningkatan dalam perikehidupan ?, atau karena jika membangun wilayah timur perlu dana yang besar karena prasarana penghubung proses pembangunan masih sangat minim, misalnya Maluku Utara merupakan propinsi yang terdiri dari pulau-pulau yang tersebar luas sehingga dalam proses pembangunan wilayahnya memakan biaya yang besar. Kondisi ketersebaran wilayah dan kesulitan sarana penghubung pembangunan seperti ini lantaskah menyurutkan niat pemerintah untuk membangun wilayah timur ?. Mungkin jawabnya tidak karena pembangunan masih ada tapi mungkin pertanyaan berikutnya ialah apakah budget biaya yang dianggarkan sama dengan wilayah barat ?, jika ini yang terjadi sampai kapan timur akan maju seperti saudaranya di barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran bentang alam dan kondisi di atas merupakan hal yang dapat terekam dalam beberapa hari setibanya aku di Jailolo ini. Di hari ke empat informasi-informasi yang tergali makin banyak dan beragam dengan sumber informasi baik dari pihak pemda kabupaten Halbar maupun dari masyarakat yang sempat ditemui. Informasi tidak hanya seputar perkembangan kabupaten Halbar namun juga informasi tentang tejadinya konflik yang sempat melanda hampir di seluruh Maluku Utara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi ini diawali ketika aku kembali datang ke kantor Bappeda untuk bertemu dengan kabid Fipras sesuai yang telah direncanakan di hari kemarin, namun ternyata sesampainya di kantor Bappeda yang nampak hanya kesepian suatu kantor pemerintahan setingakat kabupaten, kalau itu hanya merupakan kantor desa mungkin wajar tapi ini kantor Bappeda kabupaten lho !,&lt;br /&gt;“Maaf pak kalau…pak Husen-nya ada ?” tanyaku pada salah seorang staf yang kebetulan masih ada.&lt;br /&gt;“Ohh..pak Husen-nya sudah pulang dari hari kamis ke Ternate pak..” jawab orang tersebut.&lt;br /&gt;Perasaan kecewa kembali melandaku, karena aku tak berhasil untuk bertemu dengan orang yang nanti akan lebih banyak aku melakukan koordinasi, tetapi kekecewaan ini tak berlangsung lama karena aku mencoba memperkenalkan diri pada orang tersebut yang ternyata dia orang Ternate juga bernama Syafril Tauhid yang ditakdirkan hari itu belum pulang ke Ternate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perbincangan dengan beliau hampir sama dengan yang aku peroleh ketika ngobrol dengan salah seorang anggota polisi pamong praja bahwa sebagian besar pegawai pemda kabupaten Halbar melakukan aktivitas mulai hari senin hingga jum’at pagi bahkan efektif nya hingga hari kamis sore, namun terkadang di hari senin-nya sebagian baru datang pada siang harinya. Kalau kita coba kalkulasikan ternyata mereka bekerja secara efektif cuma empat hari dalam seminggu itupun jika waktu kerja mereka penuh dari pagi hingga sore namun terkadang mereka sudah kembali ke tempat mess kontrakan padahal jam bekerja belum berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan beralih ke soal kerusuhan yang pernah terjadi di Maluku Utara termasuk di kabupaten Halbar ini ketika saya bertanya soal ada rumah dan gereja yang rusak di pinggir jalan. Beliau menjelaskan pada awalnya kerusuhan ini bukanlah kerusuhan yang bermuatan agama tapi hanya berupa kecemburuan social dan ekonomi. Kerusuhan dimulai karena warga asli yang sebagian besar beragama nasrani di daerah malifut merasa cemburu terhadap kemajuan perekonomian warga pendatang yang sebagian besar etnis makian dan beragama islam. Kecemburuan yang ada di daerah malifut dimanfaatkan oleh orang-orang dari luar malifut yang tidak bertanggung jawab melakukan provokasi-provokasi terhadap warga asli, sehingga terjadi pengrusakan rumah-rumah warga etnis makian yang tinggal di malifut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan berkembang menjadi bernuansa agama karena masjid yang menjadi tempat beribadah umat islam di bakar dalam kerusuhan tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan kerusuhan melebar ke luar malifut dan membangkitkan sentiment kesukuan dan keagamaan di Maluku Utara melakukan pembalasan pada warga dan tempat ibadah umat nasrani yang ada di Maluku Utara. Kerusuhan yang terjadi tidak saja merugikan dari aspek ekonomi namun menimbulkan keretakan hubungan social budaya diantara warga. Hasil pemantauan dan wawancara dengan pihak pemda maupun masyarakat bahwa rumah-rumah yang rusak sebagian besar di lokasi-lokasi perbatasan antara perkampungan muslim dengan perkampungan nasrani atau dilokasi yang dalam satu desa atau kampung yang agamanya campuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang cukup melegakan semua pihak karena kerusuhan yang terjadi di Maluku Utara dapat segera diredakan dan ditanggulangi dengan segera sehingga tidak memakan korban dan kerugian baik ekonomi maupun social budaya yang lebih banyak lagi. Kondisi warga sekarang sudah mulai berbaur kembali meskipun mereka bebeda agama dan etnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kantor Bappeda semakin sepi karena para pegawai pemda yang belum ke Ternate telah bersiap-siap untuk pulang. Melihat kondisi ini aku pun berpamitan dan akan datang lagi pada hari senin untuk bertemu dengan Ibu kepala Bappeda dan kabid Fipras. Selepas dari kantor Bappeda aku kembali ke penginapan karena sebentar lagi waktu sholat jum’at tiba, perjalanan pulang ke penginapan ini kumanfaatkan sambil mencari rumah-rumah yang kosong dan akan dikontrakan, namun tetap belum menemukan rumah yang cocok untuk kantor. Memang cukup silit mencari kantor di daerah yang belum lama menjadi Ibu Kota Kabupaten ini hal lain yang menyebabkan sulitanya mencari rumah adalah sebagian besar rumah yang telah disewa oleh pemda kabupaten Halbar untuk dijadikan mess para pegawainya dan sebagian lagi rusak akibat kerusuhan yang pernah terjadi, mungkin alternative yang lain harus dicari di lokasi desa sasaran di desa sidangoli dehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu hingga tiba nya malam namun rumah untuk kantor di Ibu Kota kabupaten belum diperoleh. Calm and be happy Ok !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Jailolo, Sabtu 6 Mei 2006&lt;br /&gt;Tak banyak informasi yang tergali di hari sabtu ini, namun hasil dari survey rumah diperoleh satu rumah yang cukup representative. Lokasi rumah ini dipersimpangan jalan, namun belum memiliki sambungan telepon untuk rumah meskipun bagian rumah depan dimanfaatkan untuk wartel. Hasil negosiasi harga dengan pemilik rumah disepakati harga lima juta rupiah tanpa telepon, itupun harus disetujui dulu oleh pihak manajemen karena anggaran yang minim untuk sewa rumah ini, “coba bayangkan anggaran tujuh setengah juta harus dapat sewa rumah untuk enam bulan ditambah dengan furniture, gile kali yee !”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo bu dija, saya dapat rumah harganya lima juta dipinggir jalan tapi tidak ada lahan parkir dan bagian rumah depannya dipakai oleh yang punya rumah untuk wartel..” aku langsung menghubungi OM P2KP3 termasuk Pilot Project di Jakarta lewat HP.&lt;br /&gt;“Bagaimana pak rumahnya representative dan ada teleponnya nggak ?” balas OM dari Jakarta.&lt;br /&gt;“Representatif bu…., tapi nggak ada sambungan teleponnya ?!” jawabku.&lt;br /&gt;“Waduh bagaimana ya pak….?,sedangkan di kontrak kan harus ada teleponnya dan kita ada fasilitas faximili dan jangan lupa lho pak dana sewa rumah sudah termasuk untuk pembelian furniture” jawab beliau.&lt;br /&gt;“Oke bu nanti saya akan coba tanyakan harganya jika dengan sambungan telepon” jawabku menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;Ketika ku tanyakan harga sewa rumah jika dengan pemasangan telepon orang tersebut langsung menghubungi saudaranya yang memiliki rumah tersebut, namun yang punya rumah sedang keluar dan keputusannya akan disampaikan nanti sore oleh pak Jojo saudar pemilik rumah tersebut. Ya…..h lega juga akhirnya dapat rumah untuk kantor meskipun belum jadi karena harus menunggu informasi harga sewa jika termasuk dengan pemasangan telepon. Dan tinggal informasi harga kendaraan untuk operasional yang belum diperoleh, tetapi kalau dilihat kebanyakan kendaraan roda 4 yang ada di Ibu Kota kabupaten Halbar ini adalah jenis kijang dan sepertinya tidak mungkin harga sewa per bulannya di bawah lima juta rupiah, “gilee juga kali yee ni anggaran !”&lt;br /&gt;“lah kagak gila gimana orang harga sewa motor aja per jam lima belas ribu rupiah, eeh malah pernah juga ditawarin sewa mobil angkot untuk operasional harga sewanya per hari enam ratus ribu rupiah, nah kalau sebulan jadi delapan belas juta rupiah berapa kali lipet tuh dari anggaran yang disediakan ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah dijanjikan maka sore hari orang yang aku panggil Om Jojo menghubungiku dan menginformasikan bahwa harga sewa rumah sebesar enam juta rupiah sudah termasuk dengan telepon. Informasi ini langsung aku sampaikan ke pihak manajemen, namun aku belum mendapat lampu hijau apakah rumah tersebut disetujui oleh pihak manejemen karena anggaran yang tersedia sudah termasuk dengan biaya furniture dan informasi ini harus dirapatkan dulu oleh pihak manajemen, “Yah terpaksa menunggu informasi selanjutnya di hari senin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Senin, 8 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hari ini diawali dengan hujan deras yang turun mulai pukul 05:00 WIT yang tidak dapat diperkirakan kapan akan berhenti karena kondisi cuaca sangat gelap dan kemungkinan hujan akan berlangsung seharian.&lt;br /&gt;“Aduu…h hujan euy, gede deuih, padahal poe ayeuna rek manggihan kepala Bappeda jeung Kabid Fipras” batinku dalam bahasa sunda.&lt;br /&gt;Hujan hari ini kemungkinan akan membuyarkan rencanaku dan kemungkinan baru bisa bertemu dengan kepala Bappeda dan Kabid Fipras di keesokan harinya. Pukul 13:00 kelihatannya hujan mulai agak reda, melihat kondisi ini aku segera berkemas-kemas dan melaksanakan sholat dhuhur dan kemudian pada pukul 13:30 aku segera berangkat menuju ke kantor Bappeda. Yah akhirnya sampai juga meskipun agak sedikit basah karena hujan memang belum benar-benar reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Bappeda ketika aku sampai di sana kondisinya lengang dan hanya ada satu orang staf yang bernama pak Abdullah. Pak Abdullah menjelaskan bahwa Ibu Kepala dan Bapak Husen kabid Fipras tadi pagi masih ada, namun karena terjadi goncangan gempa yang cukup besar maka sebagian besar staf pulang lebih awal karena khawatir gedung pemda kabupaten Halbar akan runtuh. Gempa kerap terjadi sejak hari sabtu dan beberapa kali gempa yang terjadi cukup besar. Gempa yang terjadi di Jailolo ini mungkin diakibatkan oleh aktivitas gunung ibu yang berdasarkan prediksi para ahli kegunungapian akan meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menunjukkan pukul 14:00 dan hari kembali gelap diselimuti awan mendung dan gerimis kembali mengguyur ibu kota kabupaten Halbar, segera saja aku bergegas untuk pulang ke penginapan karena khawatir hujan akan semakin deras. Hari ini aku kembali gagal untuk betemu dengan kepala Bappeda dan kabid Fipras, namun akan dicoba esok hari. Sesampainya di penginapan aku dapat informasi bahwa aku harus mengirim RAB segala kebutuhan kantor lewat email, padahal untuk mengirim informasi lewat email aku harus pergi ke Ternate karena di Jailolo belum tersedia failitas layanan jasa internet seperti warnet. Jangankan fasilitas layanan jasa internet untuk membeli barang-barang elektronik penunjang kegiatan kantor semisal computer saja harus pergi ke Ternate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Selasa, 9 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Waktu menunjukkan pukul 09:00 WIT aku segera bergegas menuju kantor Bappeda untuk bertemu dengan kepala Bappeda dan kabid Fipras sesuai yang telah direncanakan hari senin kemarin. Alhamdulillah akhirnya aku dapat bertemu juga dengan beliau-beliau ini dan penerimaan mereka sangat ramah. Banyak informasi yang tergali sehubungan dengan rencana pemda kabupaten Halbar dalam program P2KP ini, diantaranya ialah bahwa mereka berencana akan menyewa rumah untuk secretariat P2KP dan DPRD sudah mengalokasikan anggaran sebagai sharing pendanaan P2KP sebesar lima ratus juta rupiah sesuai dengan desa yang masuk dalam program P2KP di dalam pedoman umum, namun karena ada perubahan jumlah desa maka kemungkinan alokasi dana ini akan dibicarakan ulang dalam rapat dengan DPRD. Dengan berkurangnya lokasi dampingan ada satu pertanyaan yang diajukan oleh ibu Kepala Bappeda.&lt;br /&gt;“apakah masih bisa jika kabupaten Halbar meminta tambahan desa untuk lokasi P2KP ?”.&lt;br /&gt;“Masalah kebijakan penambahan lokasi desa untuk program P2KP bisa Ibu tanyakan langsung ke pusat, soalnya saya hanya pelaksanan lapangan..” jelasku pada ibu kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan dengan kepala Bappeda dan Kabid Fipras ini aku coba untuk melakukan klarifikasi tentang enam desa yang menjadi sengketa antara kabupaten Halbar dan kabupaten Halut. Berdasarkan penjelasan dari ibu kepala pada dasarnya meskipun ke enam desa ini masih menjadi sengketa tapi tidak akan menjadi masalah dalam proses pendampingan P2KP karena ini merupakan aktifitas politik dan biarkan pihak pemerintahan yang menyelesaikannya serta beliau menjelaskan juga bahwa enam desa tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah tentang pemekaran kabupaten masuk dalam wilayah Halut namun masyarakat di enam desa yang dua diantaranya menjadi lokasi dampingan pilot project P2KP yaitu desa Akelamo Kao dan Bobane Igo keinginannya menjadi bagian dari Halbar bahkan pelayanan kegiatan dan berbagai hal termasuk pembuatan KTP ke kabupaten Halbar, pemilihan Gubernur Maluku Utara pun mereka masuknya dalam wilayah kabupaten Halbar.&lt;br /&gt;“Nah sekarang apalagi yang dapat saya Bantu untuk kelancaran P2KP” tanya ibu kepala.&lt;br /&gt;“Oh iya bu sampai sekarang saya belum dapat kantor dan kendaraan untuk operasional…. Dan juga barangkali di sini ada SDM yang bisa dijadikan fasilitator” jawabku.&lt;br /&gt;“Kalau begitu nanti silahkan pak Nurdin nanti langsung berkoordinasi dengan Pak Husen karena beliau penanggungjawab lapangan untuk program P2KP ini, barangkali beliau dapat membantu hal-hal yang dibutuhkan tadi” ibu kepala menjelaskan.&lt;br /&gt;Selesai pertemuan dengan ibu kepala di ruangannya aku melanjutkan pertemuan dengan kabid Fipras khususnya untuk memohon bantuan hal-hal yang telah aku sebutkan di ruangan ibu kepala dan juga informasi-informasi tentang kabupaten Halbar diantaranya Halbar dalam angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak informasi tergali di hari ini, tinggal menunggu informasi tentang rumah, kendaraan dan fasilitator di keesokan hari. Sekembalinya dari kantor Bappeda aku langsung ke penginapan karena hari ini salah seorang faskel non lokal akan datang, dan beliau baru datang pada pukul 15:00 WIT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Rabu, 10 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Aktivitas dimulai dari kantor Bappeda karena hari ini selain untuk memperkenalkan fasiltator non lokal yang baru datang kemarin juga mencari informasi tentang rumah, kendaraan dan calon faskel lokal.&lt;br /&gt;“Oh iya pak Nurdin saya sudah ada calon faskel, sekretaris dan operator kumputer” Pak Husen memberikan kabar meskipun aku baru masuk ke ruangan Bappeda.&lt;br /&gt;“Wah terimakasih pak nanti saya akan berbicara dengan mereka” jawabku antusias mendengar informasi ini.&lt;br /&gt;“Bahkan salah satu dari mereka adalah ketua remaja mesjid di desa Gam Lamo dan kebetulan ke empat orang ini semuanya satu desa” lanjut pak Husen menjelaskan.&lt;br /&gt;Aku mengikuti langkah pak Husen menuju ruangannya yang hanya disekat dari triplek sebagai pemisah dengan ruangan bidang-bidang yang lain. Sesampainya di meja beliau aku langsung memperkenalkan Pak Dani sebagai salah seorang faskel non lokal yang akan memfasilitasi masyarakat dalam pilot project P2KP ini. Selain membicarakan tentang kebutuhan rumah dan kendaraan juga kami bicarakan tentang rencana pelaksanaan sosialisasi tingkat kabupaten yang pernah dibahas juga dengan ibu kepala. Pelaksanaan sosialisasi awal tingkat kabupaten pada dasarnya pihak Bappeda merasa perlu namun anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan P2KP belum turun sehingga tidak bisa dilakukan dengan segera, namun harapan pihak Bappeda sendiri pelaksanaan P2KP di tingkat desa tidak terhambat karena belum terlaksananya sosilisasi awal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang dibicarakan dengan kabid Fipras diantaranya ialah menggali kembali informasi-informasi tentang konflik yang terjadi dan kondisinya saat ini. Hasil penjelasan beliau pada dasarnya sama dengan penjelasan yang pernah disampaikan oleh stfaf Bappeda yang lain namun mungkin penjelasan beliau termasuk lebih lengkap dari sisi proses konflik terjadi bahkan dari sisi politik dan keberpihakan pihak-pihak tertentu selama konflik terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas kami berbicara berbagai hal sehubungan dengan pelaksanaan P2KP selanjutnya kami memanggil calon tim fasilitator lokal, sekretaris dan operator computer untuk sedikit memberikan gambaran tentang kegiatan yang akan dilakukan P2KP dan sebaran wilayah dampingan P2KP yang ada di kecamatan Jailolo Selatan. Melihat sebaran wilayah desa dampingan yang berjauhan sepertinya para calon fasilitator merasa berat, mungkin hal ini karena mereka mengetahui bagaimana kondisi dan transportasi yang akan ditempuh agar sampai ke desa tersebut.&lt;br /&gt;“Oke temen-temen itulah gambaran kegiatan P2KP serta desa-desa yang harus didampingi, namun hari ini belum merupakan keputusan diterima atau tidaknya karena temen-temen pun belum memasukkan lamaran. Jadi nanti masukkan dulu lamaran sebagai bahan pertimbangan saya dan paling lambat hari senin sudah masuk….!” aku mengakhiri penjelasan tentang program pilot project P2KP calon fasilitator, sekretaris dan operator computer. Aku kemudian berpamitan ke kabid Fipras untuk kembali ke penginapan sambil mencari informasi tentang rumah yang akan dikontrakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menunjukkan pukul sekira 20:00 WIT saat aku sedang sedang menerima calon faskel lokal yang memasukkan lamaran untuk menajdi fasilitator tiba-tiba HP ku berbunyi, rupanya ada Short Masage Service atau “SMS gitu lo….” dan ketika kubuka isi SMS tersebut ternyata informasi dari kabid Firpras Bappeda Halbar yang memberitahukan bahwa beliau sedang melihat-lihat rumah yang akan dikontrakan dan kalau bisa aku ke sana untuk melihat dan bernegosiasi masalah harga rumah tersebut. Ketika menerima informasi tersebut aku dan faskel non lokal disertai faskel lokal langsung menuju ke sana. Rumahnya cukup besar ketika aku sampai di sana dan melihat-lihat rumah tersebut namun lantainya belum dikeramik bahkan masih diplester kasar. Sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan si pemilik rumah aku menanyakan harga sewa rumah tersebut.&lt;br /&gt;“Kalau masalah harga sewa saya tidak bisa menentukan sekarang, soalnya saya harus menanyakan dulu pada Bapak yang sekarang sedang ke Jakarta” jawab Ibu pemilik rumah.&lt;br /&gt;“Atau begini saja bu, nanti kalau ibu sudah telepon ke Bapak informasikan saja ke Pak Husen saja, terus nanti saya yang telepon ke Pak Husen” aku mencoba memberikan alternative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulangnya dari rumah tersebut aku juga mencoba melihat-lihat rumah kosong milik kakak calon faskel lokal, lokasi rumah tersebut sedikit masuk ke dalam dari jalan raya dan ketika aku lihat rumahnya sangat luas tapi suasananya geueumeun dan hieumeun maklum sudah lama engga dipakai oleh pemiliknya. Menurut informasi adik si pemilik rumah bahwa rumah tersebut pernah dikontrak para pegawai keuangan tapi pada keluar lagi dengan alasan karena mereka katanya sih sering kesurupan.&lt;br /&gt;“Tapi saya sering tidur sendirian di sini tidak ada apa-apa kok pak” jelas nya menepis keterangannya sendiri.&lt;br /&gt;“Atau mungkin dia jarang sholat sehingga sering kesurupan” aku mencoba menjawab, namun sebenarnya mendengar informasi ini aku agak merinding juga sih. Untuk menyembunyikan rasa merindingku aku mencoba menanyakan harga sewa rumah tersebut.&lt;br /&gt;“Kalau masalah harga sewanya saya harus menelpon de pe kakak saya dulu yang ada di kabupaten Sula Pak…, namun saya tarada pulsa so menelpon !” jawab nya.&lt;br /&gt;Informasi tentang harga sewa rumah tersebut hingga saat ini belum ada kabar beritanya dan sebenarnya aku sendiri enggan untuk tinggal di situ, soalnya bisa gila kalau sendirian tinggal disitu hee….hee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So waktu tlah larut malam dan tiba saatnya ke peraduan untuk adu dengkur dengan suara burung sirit huncuing di pinggir pantai. See you the Friday in Sidangoli Dehe story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Sidangoli Dehe, Jum’at – Sabtu 12 – 13 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Waktu menunjukkan sekira pukul 10 lewat WIT kami bertiga aku, Dani dan Cak Kristiono berangkat menuju desa Sidangoli dengan memakai ojeg.&lt;br /&gt;“Berapa bang ongkosnya kalau ke Sidangoli Dehe..?” tanya ku pada abang ojeg yang biasa aku gunakan selama di Jailolo.&lt;br /&gt;“Enampuluh ribu aja pak satu kali jalan..!” jawabnya.&lt;br /&gt;“Wah kemahalan bang, bagaimana kalau limapuluh ribu aja bang…?!” aku mencoba menawar.&lt;br /&gt;“Baik pak !, tiga motor pak…?” jawab si abang ojeg sambil bertanya&lt;br /&gt;“Iya bang kami bertiga” jawabku.&lt;br /&gt;Setelah tawar menawar harga kami langsung berangkat menuju salah satu desa dampingan pilot project P2KP di kabupaten Halbar ini. Berdasarkan informasi perjalanan ke desa Sidangoli Dehe ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dengan kondisi jalan mulus dan rusak berat sekira tiga kilometer, bahkan pada malam jum’at faskel lokal menginformasikan bahwa kondisi jalan yang rusak tersebut di kanan kirinya jurang, “wah gawat juga….!” pikirku saat itu.&lt;br /&gt;Ternyata setelah aku menapaki jalan yang rusak tersebut tidak segawat yang digambarkan faskel lokal, namun kondisinya memang rusak parah dan menanjak terus serta bekelok-kelok sepanjang kurang lebih tiga kilometer, mungkin itu yang menjadi factor kesulitan dan menyebabkan keengganan dia ketika ku ajak ke desa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hujan jalan yang rusak tersebut memang mungkin akan sulit untuk dilalui baik oleh kendaraan roda empat maupun roda dua karena banyak lubang di badan jalan, bahkan bagi yang belum pernah melalui jalan tersebut memang harus extra hati-hati jangan samapai kendaran yang kita kendarai malah meluncur kembali ke belakang. Perjalanan selanjutnya selepas jalan yang rusak kondisinya bagus dan sudah di hotmix, tapi tetap kami harus berhati-hati karena jalannya selain sempit juga banyak kelokan-kelokan yang tajam, sehingga supir ojeg kerap membunyikan klakson untuk memberitahukan kepada kendaraan yang barangkali akan berpapasan. Jalan bekelok-kelok, menurun tajam dan naik lagi dengan susah payah kami mencoba untuk tidak merasakannya dengancara menikmati perjalanan Jailolo – Sidangoli Dehe ini dengan suasananya yang asri dan pemandangan yang terkadang lembah dan terkadang laut serta diselingi suasana perkampungan-perkampungan yang dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidangoli Dehe, akhirnya kamipun sampai di desa tersebut meskipun dengan pantat yang terasa panaaa……..ss dan agak kapalan serta cararangkeul setelah 1 jam tanpa henti di atas jok motor. Sesampainya di sini kami langsung menuju ke perusahaan kayu lapis Barito bertemu dengan Bapak Herman salah seorang pegawai perusahaan ini. Bapak Herman ini orang yang telah diinformasikan untuk membantu kami mencarikan rumah di Sidangoli Dehe oleh teman baru kami dari Ternate ketika kami melakukan survey perangkat computer pada hari kamis kemarin. Akhirnya kami sampai di perusahaan tersebut dengan menumpang perahu dayung untuk menyebrangi sungai dimana beliau sudah menunggu di pintu gerbang, dari sini kami langsung ke rumah beliau dengan alasan kunjungan keluarga ketika satpam perusahaan bertanya tujuan kedatangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil beristirahat dan menunggu adzan jum’at kami berbincang-bincang tentang berbagai hal termasuk program pilot project P2KP sampai pada kebutuhan rumah kontrakan untuk kami pergunakan sebagai kantor dan kendaraan roda empat untuk operasional. Satu informasi yang cukup berharga ialah bahwa desa ini salah satu yang terkena dampak dari kerusuhan di tahun 1999 kemarin dan beliau salah satu korban yang sempat mengungsi ke Ternate bersama-sama dengan pegawai yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sholat jum’at pun telah berakhir kami berempat pun menuju ke rumah yang akan di kontrakan tersebut dimana sebelumnya kami bertemu dengan pemilik rumah yang merupakan salah seorang pegawai perusahaan Barito juga di rumah pak Herman ini. Dengan diantar oleh pak Herman kami menuju ke rumah teman beliau, sesampainya di sana ternyata bukan rumah yang akan disewakan namun satu kamar. Pak Herman dan kami pun kecewa karena yang disewakan cuma satu kamar padahal ketika pertama kali dihubungi oleh pak Herman temannya tersebut akan menyewakan satu rumah.&lt;br /&gt;“Waduh maaf nih pak Nurdin padahal kemarin dia menyatakan akan menyewakan satu rumah, mungkin setelah berunding istrinya tidak setuju untuk menyewakan satu rumah tapi cukup satu kamar saja” ungkap pak Herman dengan perasaan menyesal.&lt;br /&gt;“Ah ngga apa-apa pak Herman, mungkin belum jodohnya dan mungkin masih ada rumah lain yang akan di kontrakan, kalau ngga salah tadi pemilik rumah ini mengatakan bahwa rumah bekas di kontrak pak Camat Jailolo Selatan akan dikontrakan juga..?”jawabku sambil memberikan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja kami berempat menuju rumah tersebut yang lokasinya tidak berjauhan dari rumah yang gagal kami kontrak tadi. Berdasarkan informasi penunggu rumah bahwa memang rumah ini akan dikontrakan. Kami pun melihat-lihat kondisi rumah tersebut dan melakukan negosiasi harga, akhirnya kami sepakat dengan harga sewa empat juta rupiah untuk selama enam bulan, meskipun kondisi rumah yang ada tidak memiliki pesawat telepon karena memang jaringan telepon kabel belum masuk ke desa Sidangoli Dehe dan untuk keprluan komunikasi orang menggunakan telepon sistim antenna dan telepon genggam, selain hal tersebut juga fasilitas penerangan yang dilayani oleh jasa PLN masih terbatas pada malam hari sehingga untuk siang hari harus menggunkan genset sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran kondisi rumah yang rencananya akan di kontrak untuk kantor ini langsung aku informasikan ke salah satu staf manajemen. Hasil konfirmasi dengan manajemen bahwa pada dasarnya kantor tetap harus memiliki fasilitas telepon sebagai alat untuk membuka informasi melalui internet dan faxcimili. Mendengar kondisi yang ada pihak manajemen meminta menyarankan untuk mengirimkan rincian kebutuhan biaya jika akan mengontrak rumah di desa Sidangoli Dehe ini. Untuk memenuhi persyaratan tersebut kami mencoba meminta bantuan pak Herman untuk mencari antenna telepon yang sudah tidak dipakai lagi oleh pemiliknya adapun masalah genset kami sepakat akan membeli sendiri seharga empat ratus lima puluh ribu dengan masa pakai enam bulan. Beberapa solusi hal tersebut beserta anggaran biayanya rencananya akan aku email kan ke pihak manajemen pada hari minggu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari merangkak kian gelap lampu-lampu penginapan sudah menyala, sura-suara musik di rumah-rumah penduduk mulai terdengar keras seakan-akan sedang bertanding dan mempertontonka bahwa musiku ini paling hebat, lagu dari rumahku ini paling bagus dan Sound system ku paling canggih. Malam hari kami manfaatkan untuk melihat-lihat suasana desa Sidangoli Dehe ini, kami mencoba mencari informasi tentang keberadaan café, karena berdasarkan informasi bahwa di desa ini ada café-café yang sering di datangi para pegawai PT Barito. Lokasi café-café tersebut ternyata lokasinya dekat dekat kantor kecamatan dan harus memakai ojeg untuk sampai ke sana, akhirnya kami kembali ke penginapan lagi dan menguntai mimpi-mimpi berwarna kelabu sekelabu kehidupan rakyat republic ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari di hari sabtu ini setelah kami bertiga minum kopi berteman pisang goreng langsung bergegas menuju ke kantor kecamatan untuk bersilaturahmi meskipun hari ini hari libur PNS tapi kami bermaksud akan datang ke rumah dinasnya. Suasana kantor kecamatan sepi namun rumah dinas camat nampak ada beberapa orang tamu, tapi setelah kami sampai di kumpulan para tamu ternyata pak Camat sedang sakit di Ternate dan kami hanya di terima oleh Kasi Pelayanan. Dari hasil obrolan dengan Kasi tersebut kami memeproleh informasi bahwa ternyata desa Bobane Igo dan Akelamo Kao bukan bagian dari Jailolo Selatan tetapi menjadi wilayah kecamatan Jailolo Timur yang merupakan kecamatan pemekaran jadi belum memiliki Camat yang definitive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekira pukul sebelas lewat selepas kami bertemu dengan kasi pelayanan kecamatan Jailolo Selatan kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan di Jailolo dengan hasil berbagai informasi yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Jailolo Minggu – Minggu, 13 – 28 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Segala informasi yang telah diperoleh dalam beberapa hari yang lalu akhirnya aku sampaikan kepada pihak manajemen via email dengan harapan dapat memberikan pertimbangan khususnya bagi kami dalam menentukan lokasi kantor koorkot. Jawaban atas email yang aku kirim pihak manajemen memberikan kebebasan tentang lokasi kantor koorkot namun secara kontrak hal-hal yang harus ada di kantor tetap harus dipenuhi. Berdasarkan informasi ini hari-hari berikutnya kami terus berusaha agar kantor dapat berlokasi di desa Sidangoli Dehe dengan berupaya mencari informasi khususnya tentang antenna telepon yang dapat kami manfaatkan. Pertimbangan kami kalau kantor di Sidangoli Dehe aku dapat melakukan koordinasi dengan tim faskel setiap hari, karena pilot project ini menuntut adanya analisis dan kajian dari setiap siklus sehingga akan lebih efektif jika aku tinggal dalam satu kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk memenuhi kebutuhan kantor khususnya genset dan antenna telepon terus dilakukan dari ke hari hingga pada hari kamis 18 Mei 2006 aku kembali ke Sidangoli Dehe sambil membawa perlengkapan baju karena ada informasi bahwa ada antenna telepon yang bisa dimanfaatkan dan juga ada rumah yang akan dikontrakan dilengkapi dengan genset, sehingga aku merasa yakin bahwa kantor di Sidangoli aja. Kenyataannya informasi tentang antenna telepon itu tidak ada dan kalau pun beli antenna telepon harganya cukup mahal, melihat kenyataan ini dan atas masukkan dari berbagai pihak khususnya Bapak Edi Jatmiko sebagai TL pilot project serta tim fasilitator maka aku memutuskan kembali lagike Jailolo danm engambil rumah yang pernah ditawarkan seharga enam juta dengan jaringan telepon di Jalilolo sebagai kantor. Usaha tinggal usaha namun takdir lebih kuat. Tak lama setelah mendapatkan kantor Alhamdulillah aku pun mendapatkan kendaraan roda empat sebagali alat transportasi, dimana hal ini tak lepas dari bantuan dari saudara-saudaraku yang ada di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The End&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25273978-114887540010585400?l=marasauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marasauli.blogspot.com/feeds/114887540010585400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25273978&amp;postID=114887540010585400' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114887540010585400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114887540010585400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marasauli.blogspot.com/2006/05/lanjutan-kabar-halbar.html' title='Lanjutan Kabar Halbar'/><author><name>Marasauli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06108756662051573412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i60.photobucket.com/albums/h31/marasauli/PantaiPidie.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25273978.post-114758237648656317</id><published>2006-05-13T21:39:00.000-07:00</published><updated>2006-05-13T21:52:56.506-07:00</updated><title type='text'>KABAR HALBAR</title><content type='html'>Jakarta-Manado-Ternate, Selasa 2 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga, Shihabuddin, Iik Tohara dan aku sendiri Nurdin Halekdin memulai perjalanan menuju ke lokasi pendampingan P2KP di wilayah Irjabar, Ambon dan Maluku Utara dari kota Cipanas sekira pukul 03:00 dinihari dan tiba di Bandara Sukarno Hatta sekira pukul 05:30 dan disinilah kami berpisah untuk naik pesawat sesuai dengan tujuan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 06:00 WIB pesawat tujuan Manado dan Ternate berangkat, “ah….lega, akhirnya berangkat juga pesawat ini ke Ternate” bisik hatiku. Dalam pesawat sang pramugari menjelaskan tatacara di dalam pesawat yang hamper ku hafao dan mengatakan bahwa perjalanan Jakarta - Manado akan ditempuh selama 4,5 jam, artinya mungkin sekira jam 10:30 WIT aku baru tiba di Manado. Awan putih nampak menghampar di bawah dan sebagian di atas pesawat, manusia dengan kemampuan akal-nya akhirnya mampu membuat manusia untuk terbang diangkasa, hal ini menjadi mungkin karena Allah lah yang telah menciptakan seperangkat memori yang paling canggih yaitu otak manusia dengan miliaran sel yang terus bergerak dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita, aku tak ingat apa-apa lagi, yang terdengar hanya sayup-sayup suara penumpang lain, namun itupun hanya sekejap karena suasana kabin pesawat akhirnya sepi seperti tak berpenghuni. “Oh rupanya aku tertidur”, sejenak aku terbangun dan dihadapanku telah tersedia makanan ringan. Tak selang berapa lama tiba-tiba datang seorang laki-laki usia sekitar 50 tahunan dengan tampilan jas safari, sehingga menambah perlente penampilannya mendatangi tempat duduku, ternyata dia seseorang yang kenal dengan salah seorang penumpang pesawat yang duduk di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana pak kalau proyek yang bapak kerjakan di Manado aku berikan sebagian pada orang yang telah lebih awal mengerjakan proyek ini…”, orang tersebut membuka percakapan.&lt;br /&gt;“Oh…tidak masalah pak” jawab penumpang disebelahku.&lt;br /&gt;Pembicaraan berlangsung sekira 30 menit antara orang tua yang ternyata seorang pendeta yang sedang memangun tempat pengungsian bagi korban konflik Poso dengan seorang kontraktor asal Manado. “Maaf pak menggangu, dia pendeta di New york tempat aku mendengarkan khotbahnya, dia disini sedang membangun temapt pengungsian bagi korban konflik, dia orang yang baik mau membangun dengan uangnya pribadi” panjang lebar kontraktor menjelaskan padaku. “Oo…iya pak” hanya itu yang dapt aku jawab karena terus melanjutkan “Oh iya pak pada dasarnya konflik berlatar belakang kecemburuan sosial ekonomi saja bukan berlatar belakang agama, kalau bapak dari mana ?” sambungya, yang diakhiri dengan pertanyaan. Dalam sisa perjalanan yang tinggal 30 menit lagi sampai di bandara Sam Ratulangi aku menjelaskan tujuan P2KP datang ke Jailolo yaitu untuk membangun kembali nilai-nilai kemanusiaan yang baik yang dimiliki oleh setiap agama, kedatangan P2KP bukan atas inisiatif agama tertentu tapi hanya atas kepedulian kemanusiaan semata. Sebelum pesawat mendarat sang kontraktor masih sempat memberikan alamat temannya yang bekerja di salah satu lembaga di bawah PBB yaitu FAO, “Ini pak barangkali bapak perlu tentang masalah pangan bagi masyarakat yang bapak dampingi dapat menghubungi alamat ini”.&lt;br /&gt;Akhirnya aku tiba di bandara Sam Ratulangi dan tinggal menuju pesawat tujuan ternate yang akan terbang pukul 11:00 WIT. Aku kaget setelah tahu bahwa pesawat yang kutumpangi ternyata pesawat kecil dengan baling-baling yang harus diputar dengan tangan, posisi tempat duduk yang rendah dan sang pramugari yang tak lagi lembut gayanya seperti pemberangkatan dari Jakarta ke Manado. Mengetahui pesawat yang akan kutumpangi seperti itu aku semakin memperbanyak do’a dalam perjalanan, maklum “can pernah naek pesawat leutik selama di NAD euy, he…he…”. Perjalanan Manado yang memiliki perbedaan waktu 1 jam ditempuh dalam waktu 45 menit, sehingga tiba di bandara Baabulalh Ternate sekira pukul 12:45 menit WITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternate, Selasa 2 Mei 2006&lt;br /&gt;Setibanya di bandara Baabullah Ternate yang kondisinya mungkin jauh dapat dikatakan sebagai bandara, dan mungkin lebih tepat dikatakan stasiun aku langsung naik mobil menuju arah kota Ternate selain untuk bertemu kakak iparku yang asli orang Maluku Utara juga esok harinya direncanakan akan bertemu dengan satker yang ada di PU propinsi Maluku Utara. Setibanya di kota Ternate dengan diantar kakak-ku, aku pergi ke rumah makan, dan ketika kutanya harganya “ooh… maa…mahal kali” 25 ribu rupiah, padahal aku makan dengan sayur nangka, ikan dan minummya es jeruk sedangkan kakakku minum kopi, ah ternyata betul perkiraanku bahwa ternate lebih mahal dari NAD.Setelah makan kemudian aku menginap di Ternate City Hotel yang lokasinya dekat dengan kantor kegubernuran dan kantor Bappeda propinsi. Ah……..akhirnya aku dapat merebahkan tubuhku yang lelah diguncang pesawat selama dalam perjalanan. Suasana malam hari di kota Ternate cukup ramai, seakan akan tidak ada bekas terjadi nya konflik yang bernuansakan SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternate, Rabu 3 Mei 2006&lt;br /&gt;Seusai dengan rencana sekira pukul 10:00 aku menemui kepala Satker propinsi Maluku Utara Ibu Widya Eka Putri, untuk melakukan koordinasi dan memeperkenalkan diri. Beberapa hal yang dapat tergali dari pertemuan ini yang diantaranya adalah pada dasarnya untuk UPP-3 beliau telah memahami namun untuk program pilot ini ada beberapa hal yang masih belum mengerti dan beliau minta jadwal rencana kegiatan serta TOR dari pilot project. Selain itu juga dibicarakan tentang tenaga lokal fasilitator yang akan mendampingi di 4 desa dampingan pilot project. Beliau meyambut gembira jika memang ada beberapa orang fasilitator berasal dari putra daerah, namun permasalahannya SDM yang ada di Jailolo masih sedikit yang jenjang sarjana tapi kalau di Ternate memang lebih banyak SDM yang lulusan sarjana. Ketika diusulkan fasilitator untuk di Jailolo diambil dari SDM yang ada di Ternate beliau menyarankan sebaiknya jangan karena hal ini akan menimbulkan kecemburuan social, karena selama ini para pegawai pemda Halbar semuanya dari Ternate, dan juga untuk menghindari konflik yang pernah terjadi akibat kecemburuan social di Maluku Utara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan Satker Propinsi maka berikutnya kami menemui kepala Bappeda propinsi, namun beliau sedang pergi ke Jakarta, sehingga hanya dengan stafnya kami bertemu. Tidak banyak yang kami bicarakan di sini karena selain itu aku rencana akan menemui Bapak Ongen di bidang Sosbud untuk meminta masukkan tentang nama-nama calon fasilitator karena beliau banyak berkecimpung di LSM. Ketika ke kantor beliau ditakdirkan beliau sedang melakukan pertemuan di kantor UNICEF, tapi kami akan bertemu kembali sekitar pukul 11:30 WITA. Untuk memanfaatkan waktu luang tersebut maka aku mencoba mencari toko computer atau pun rental computer dan warnet. Sekitar pukul 11:25 WITA aku kembali ke kantor Bappeda untuk bertemu dengan Pak Ongen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pertemuan dengan Pak Ongen pada dasarnya sama seperti yang disampaikan oleh kepala Satker bahwa SDM di Jailolo masih jarang yang berpendidikan sarjana dan ketika di tanya tentang LSM di Jailolo beliau menyatakan belum ada LSM yang berlokasi di Jailolo karena sebagian besar LSM berada di Ternate, namun beliau menyarankan untuk mencoba menghubungi Bappeda Kabupaten barangkali memiliki beberapa nama warga Jailolo yang dapat menjadi fasilitator. Beliau juga memberikan dua nama yang berasal dari LSM yang ada di Ternate sebagai calon fasilitator diantaranya Numaira Doya dari LSM Daurmala dan Bapak Udin dari LSM LML, namun ketika Pak Ongen menghubungi sekretaris LSM LML ternyata Pak Udin sudah dikontrak oleh PPK, tapi sekretaris itu mencoba akan mencari barangkali ada anggotanya yang masih belum dapat kegiatan dan dapat dihubungi besok hari. Banyak hal yang aku dapat dari pertemuan dengan beliau selain calon fasilitator juga alamat penjualan computer yang bekerjasama dengan pemda propinsi Maluku Utara. Pukul 13:30 aku kembali ke hotel Ternate City untuk melepaskan lelah, maklum lapar jeung cape deuih tas jalan kaki ngelilingin pertokoan di kota Ternate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternate-Jailolo, Kamis 4 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/440/2639/1600/CIMG0277.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/440/2639/200/CIMG0277.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dufa-dufa itulah nama pelabuhan yang mengubungkan antara ternate dengan Jailolo ibukota Kab. Halmahera Barat (Halbar) Maluku Utara, pelabuhan ini lokasinya berdekatan dengan benteng Tolokko peninggalan Belanda. Dari sinilah aku akan melanjutkan perjalanan ke Jailolo untuk bertemu dengan Bupati Halbar dan Bappeda Halbar. Perjalanan dari pelabuhan Dufa-dufa dilakukan sekira 1 jam perjalanan dengan kendaraan speed boat dengan harga tiket 27.000 berpenumpang 30 sampai dengan 40 orang itupun jika ombak sedang kecil, namun jika sedang musim ombak besar maka perjalanan sebaiknya dilakukan dengan perahu yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa perjalanan laut antar Ternate-Jailolo telah terlewati, aku tiba di pelabuhan kecil&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/440/2639/1600/CIMG0274.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/440/2639/200/CIMG0274.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Jailolo khusus untuk speed boat dan kapal yang tidak terlalu besar pada pukul 11:00. Dari pelabuhan Jailolo dengan mengendari ojeg aku menuju penginapan di simpang pasar lama dan kemudian langsung menuju ke kantor kabupaten Halbar untuk bertemu dengan Bapak Bupati dan Kepala Bappeda. Setibanya di kantor pemda kabupaten Halbar Bapak bupati sedang ke Jakarta sehingga aku diterima oleh Bapak Asisten Daerah I. Bapak Asda I menyambut gembira program P2KP di kabupaten Halbar ini dan beliau langsung memberikan memo agar pihak Bappeda dapat membantu pelaksanaan di lapangan program P2KP ini. Selesai bertemu dengan Bapak Asda I aku langsung menuju kantor Bappeda untuk betemu dengan Kepala Bappeda, namun suasana di kantor Bappeda cukup lengang karena sebagian besar para pegawai Bappeda sudah pulang ke rumah masing-masing. Di kantor Bappeda ini aku hanya diterima oleh salah seorang staf bidang social budaya. Ketika aku tanya keberadaan Kepala Bappeda beliau menjelaskan “bahwa ibu sedang pergi Spamen di Makasar, adapun Kabid Fisik dan Prasarana sebagai penanggungjawab P2KP di kabupaten Halbar sedang ada keperluan”&lt;br /&gt;“Nanti bapak bisa kembali kesini hari senin, mudah-mudahan ibu kepala sudah kembali dari Spamennya di Makasar” lanjut beliau menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan kecewa menyergap dalam dada karena kantor pemda kabupaten Halbar yang begitu luas dan masih baru namun lengang dari penghuni, ataukah ini memang cerminan dari sebagian besar wajah pemerintahan di negeri ini, yang hanya ramai pada saat-saat tertentu khususnya pada saat hari senin atau hari upacara dan sepi di hari-hari berikutnya, “ah….. tak baik berhunudzon, be smart and enjoy oke” bisik hatiku. Selesai dari kantor pemda kabupaten Halbar aku langsung ke penginapan kembali sambil mohon bantuan dari tukang ojeg barangkali ada rumah yang akan di kontrakkan untuk kantor P2KP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh…akhirnya selesai koordinasi awal dengan pihak bupati, meskipun tak bertemu langsung dan nanti hari senin kembali lagi untuk bertemu dengan Kepala Bappeda dan besok jum’at akan bertemu dengan kabid Fipras” gumamku sesampainya di penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak selang berapa lama tukang ojeg kembali dengan temannya sambil menjelaskan “ini pak teman aku dan rumahnya akan dikontrakan dan barangkali bapak mau lihat-lihat kondisi rumahnya”&lt;br /&gt;“oke kita langsung ke sana aja bang, barangkali rumah itu cocok untuk kantor P2KP” jawabku antusias. Sesampianya di sana dan setelah melihat kondisi rumahnya, aku menanyakan tentang harga sewa rumah tersebut untuk selama 6 bulan, “8 juta pak….!”, jawab pemilik rumah. Melihat kondisi rumah yang ada dengan harga yang ditawarkan kayaknya seperti cerita “beautiful and the beast”,”maaf ini bukan hinaan tapi kenyataan”. “makasih pak, nanti kalau jadi aku ke sini lagi untuk memastikan” aku memberi alasan sambil berpamitan kepada pemilik rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah mahal sekali rumah bapak itu ya bang.!, padahal kondisinya banyak dinding yang belum diplester jendela yang belum di pasang kacanya belum yang kaca nya pecah lagi” jelasku kepada tukang ojeg sambil kembali ke penginapan.&lt;br /&gt;“iya pak, nanti kalau ada rumah lain yang mau dikontrakkan saya kasih tahu bapak” janjinya. Tak terasa ojeg pun tiba di penginapan Nusantara Indah kembali, namun sebelum masuk tiba-tiba ada orang yang menyapaku “baru pulang pak ?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Oh iya pak, baru lihat-lihat rumah yang akan dikontrakan” jawabku tanpa memperhatikan secara serius orang yang menyapaku, namun ketika aku akan masuk pintu aku baru ingat bahwa orang itu orang yang pernah mengantarkan aku ke ruang Bappeda tadi siang. “O…iya orang itu bukankah anggota Polisi Pamong Praja kabupaten Halbar” pikirku, aku menghampiri orang itu sambil bertanya “Bapak bukankah yang tadi mengantar saya ke ruang Bappeda ya?”&lt;br /&gt;“Oh iya betul pak” jawabnya pendek dengan logat maluku.&lt;br /&gt;“Bapak tinggal di rumah ini, oh iya nama bapak siapa ?” tanyaku pada orang itu.&lt;br /&gt;“Betul saya tinggal di sini dan nama saya biasa dipanggil Acim?”&lt;br /&gt;Setelah berkenalan aku mencoba menggali informasi tentang lengangnya kantor Bappeda padahal kondisi belum beranjak sore. Pak Acim menjelaskan bahwa sebagian besar pegawai pemda kabupaten Halbar merupakan warga Ternate dan biasanya pada hari kamis sore sebagian besar para pegawai sudah ada yang pulang ke Ternate, meskipun ada sebagian lagi yang pulang pada hari jum’at siang namun itu relative sedikit.dan mereka akan kembali pada hari senin untuk memulai kembali aktifitas mereka di kabupaten Halbar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa hari pun beranjak sore, suara-suara burung laut yang beraktifitas di malam hari sahut menyahut dengan suara jengkerik.&lt;br /&gt;“Wah sudah sore ni pak Acim dan terimakasih atas informasi tentang keberadaan kabupaten Halbar ini serta saya mau permisi ke dalam dulu pak”. Aku mencoba menutup pembicaraan dengan pak Acim. Hari ini banyak informasi yang bermanfaat khususnya tentang aktivitas kerja di pemda kabupaten Halbar ini. Hari merambat perlahan menuju malam kota kecamatan kecil ini mulai di selimuti gelapnya malam, saatnya untuk semua makhluk yang beraktifitas di siang hari untuk beristirahat dan mulai kembali kegiatan di esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jailolo, Jum’at 5 Mei 2006&lt;br /&gt;Jailolo berdasarkan catatan sejarah merupakan bagian dari 4 kesultanan yang ada di di Maluku Utara ini, yang diantaranya ialah Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Bacan dan Kesultanan Jailolo atau orang Maluku menyebut untuk ke empat kesultanan ini dengan Moloku Kie Raha. Jika dibandingkan dengan tiga kesultanan yang lain memang kesultanan Jailolo seperti di telan bumi informasinya meskipun keturunan dari kesultanan ini masih ada. Keberadaan Kabupaten Halbar di Jailolo secara geografis berada di wilayah bekas kesultanan Jailolo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halbar di bentuk menjadi kabupaten dengan ibukota Jailolo berdasarkan undang-undang no 1 tahun 2003, tanggal 23 Pebruari 2003 tentang pembentukan kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, Halmahera Timur dan Kota Tidore Kepulauan dimana Halmahera Barat sebelumnya kabupaten Maluku Utara yang dimekarkan menjadi 4 kabupaten, 3 kabupaten baru 1 kabupaten induk (Halbar). Kabupaten Halbar meliputi 5 kecamatan antara lain :&lt;br /&gt;Kecamatan Jailolo&lt;br /&gt;Kecamatan Jailolo selatan&lt;br /&gt;Kecamatan Sahu&lt;br /&gt;Kecamatan Ibu&lt;br /&gt;Kecamatan Loloda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tu Bi Kontinyu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25273978-114758237648656317?l=marasauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marasauli.blogspot.com/feeds/114758237648656317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25273978&amp;postID=114758237648656317' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114758237648656317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25273978/posts/default/114758237648656317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marasauli.blogspot.com/2006/05/kabar-halbar.html' title='KABAR HALBAR'/><author><name>Marasauli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06108756662051573412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://i60.photobucket.com/albums/h31/marasauli/PantaiPidie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
