Selayang Pandang Desa Bobane Igo dan Akelamo Kao
BOBANE IGO
Desa Bobane Igo (dalam bahasa Indonesia berarti Pantai Kelapa) berasal dari kata Toni Igo dalam pengertian bahasa Ternate berarti “banyak kelapa”. Suatu pemandangan yang tentu berkesan jika kita coba membayangkan suatu desa dengan pohon kelapanya yang berjajar di sepanjang pantai dan air teluk yang jernih, “Subhanallah………!?”mungkin itu yang akan terucap dari mulut seorang muslim ketika melihat keindahan desa Bobane igo. Selain pemandangannya yang indah desa ini hasil lautnya pun melimpah dengan memberikan hasil berbagai jenis ikan, cumi, kepiting, kerang dan udang. Namun beberap hari ini sering muncul buaya ±3 ekor dengan panjang 5 – 6 Meter, yang tentu saja meresahkan masyarakat dan sampai sekarang buaya–buaya tersebut masih berada di perairan sekitar desa, Pak Jenggot melanjutkan kisahnya ketika masih kecil dalam waktu–waktu tertentu sering diadakan acara pemberian sesaji namun sekarang kebiasaan itu sudah tidak pernah dilakukan lagi, mungkin karena telah meninggalnya sang pawang buaya maka kebiasaan itupun turut sirna.
Selain keindahan pantainya desa Bobane Igo juga memiliki sumber air yang sangat melimpah yang tak pernah kering walau dimusim kemarau panjang sekalipun dan sumber air tersebut bisa langsung diminum karena berdasarkan hasil penelitian dari PDAM dan Dinas Kesehatan dikatakan steril. Sumber air ini menjadi asset desa yang tak terhingga dan ini merupakan berkah dari yang Maha Kuasa yang bermanfaat bagi masyarakat.
Berkah tidak hanya diberikan melalui sumber air tapi juga melalui rasa aman dan terhindar dari konflik yang terjadi di Maluku Utara beberapa tahun yang silam. Satu cerita yang cukup menarik ketika konflik ditempat lain pecah tetapi di desa Bobane Igo tidak terjadi konflik antar desa yang berbau sara meskipun desa-desa yang berbatasan dengan desa ini sebagian besar pemeluk kristiani bahkan ada salah satu desa yang 100% masyarakatnya umat kristiani. Tidak terjadinya konflik di desa ini dikarenakan masih adanya hubungan kekerabatan yang dekat antara desa-desa yang bertetangga, bahkan seperti yang pernah disampaikan oleh kades Bobane Igo ada satu kesepakatan tidak tertulis antar 4 (empat) warga desa untuk saling bahu membahu menjaga desa dari ancaman penyerangan baik itu datangnya dari dalam desa sendiri maupun dari luar, sebagai contoh misalnya kalau ada sekelompok orang dari komunitas atau agama tertentu yang akan menyerang desa Bobane Igo yang penduduknya muslim maka sebelum sampai mereka sudah dihadang warga desa yang sama keyakinannya dengan si penyerang. Tidak hanya soal hubungan keamanan tapi haubungan social pun sampai sekarang masih berlangsung seperti apabila ada orang meninggal di salah satu desa itu, orang dari desa lain akan pergi ta’ziah (berkunjung ke rumah orang meninggal) walaupun agama yang mereka yakini berbeda.
Desa Bobane Igo adalah merupakan bagian dari enam desa yang menjadi perebutan antara Halbar dan Halut serta menjadi salah satu desa yang didampingi tim fasilitator pilot project P2KP. Perkembangan kegiatan pendampingan tin faskel di desa Bobane Igo sudah pada tahap sosialisasi awal dan RKM tingkat basis (RT dan komunitas lainnya) dan sampai saat ini dari 11 rt yang ada di desa Babane Igo baru 9 RT yang selesai. Proses sosialisasi awal dan RKM di 9 Rt yang sudah selesai memberikan hasil yang menggembirakan karena masyarakat sangat mendukung program ini. Dukungan ini mungkin dikarenakan secara konsep bagi masyarakat merupakan hal yang baru sehingga keingintahuan masyarakat terhadap program P2KP sangat tinggi, hal ini terlihat ketika diadakan sosialisai banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh masyarakat.
Dari 9 RT yang telah diadakan sosialisasi awal mereka menerima dan siap untuk berpartisipasi terlibat di dalam kegiatan P2KP. Dari 11 RT yang harus dilakukan sosialisasi tingkat basis ada satu RT yang letaknya terpencil tepatnya di RT 11 atau masyarakat biasa menyebut RT 11 ini dengan sebutan Bangkok, tentunya keadaan Bangkok yang ada di desa Bobane Igo tidak sama yang ada di Thailand karena Bangkok yang ada di Bobane Igo gelap sekali kalau malam hari serta jalannya becek dan licin jika selesai diguyur hujan.
“Pakai sandal….!?, sebaiknya dilepas aja deh kalau mau masuk ke wilayah ini sehabis di guyur hujan” soalnya kalau tetap dipakai jangan-jangan nanti terpeleset ‘Nah
Kampung Bangkok ini jaraknya dari kantor desa lumayan jauh karena apabila kita ke situ dengan mengendarai kendaraan motor kita harus memutar jalan, mengikuti jalan ke arah desa Toniku yang jaraknya menurut penuturan warga dari pusat desa sekra 7 km, tetapi kalau melalui jalan tikus/pintas jaraknya sekitar 4 km. Dari 11 RT yang ada di desa Bobane Igo, RT 11 inilah yang paling tertinggal, karena di wilayah ini belum tersentuh oleh pembangunan sarana dan prasarana, yang ada hanya sarana ibadah satu masjid dan satu sekolahan dimana pembangunan sekolah ini dilakukan oleh warga RT sendiri sedangkan dananya merupakan sumbangan dari “CARDI” ( NGO asing).
Ketersediaan air bersih bagi warga RT 11 selama musim hujan tidak menjadi masalah karena ada sumber air bersih yang dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, akan tetapi kalau dalam 1 bulan saja tidak turun hujan maka sumber air yang ada tidak keluar lagi, sehingga masyarakat harus mengambil air untuk keperluan sehari-hari dari mata air yang jaraknya sekitar 1 km. Sedangkan untuk sarana penerangan warga di RT 11 rata-rata menggunakan lampu tempel, karena belum ada jaringan listrik dari PLN yang masuk di RT ini, sebenarnya di ujung jalan masuk jaraknya kira-kira 500 m sudah ada jaringan PLN, akan tetapi menurut warga yang ada dikarenakan warga tidak mempunyai modal/dana untuk biaya penyambungan listrik PLN. sehingga pada malam hari suasana di wilayah ini gelap sekali. memang ada satu keluarga yang agak berada, mereka menggunakan genset untuk pembangkit listrik skala rumah tangga yang dipergunakan secara terbatas, artinya dinyalakan apabila ada keperluan-keperluan penting atau juga untuk menonton televisi. Bagi warga yang ingin menonton hiburan televisi mereka terpaksa merogoh koceknya sebesar Rp. 1000 sampai Rp. 2000,-. Biaya yang dikeluarkan ini bukan berarti mereka mengkomersilkan acara yang ada di televisi, tetapi semata-mata agar bisa menambah untuk beli solar untuk genset besoknya lagi.
Mata pencaharian warga di RT 11 adalah berkebun, dimana lokasi kebun mereka sebagian besar jauh masuk ke dalam hutan, sehingga apabila kita mau mengadakan kegiatan di masyarakat membuat jadwal ke masyarakat paling tidak 3 hari sebelum pelaksanaan, karena kebanyakan mereka tidak tiap hari pulang ke rumah, kebiasaan mereka pulang ke rumah setiap hari jum’at, sekalian untuk mengikuti sholat jum’at. Sehingga pelaksanaan sosialisasi tingkat basis di RT 11 sendiri baru terlaksana pada hari sabtu malam minggu tanggal 10 Junni 2006, dimana sebelumnya pada haru jum’at warga sudah diinformasikan akan adanya sosialisasi dari tim faskel. Ketika akan melakukan sosialisasi ini ada satu kejadian lucu yang menimpa faskel perempuan yang bernama Riyatni asal desa Bobane Igo , karena pada waktu kami hampir sampai di RT 11 ini harus menyebrang selokan kecil yang di atasnya di beri tempat penyebrangan dari kayu. Mungkin karena kayu penyebrangan kecil dan licin karena sehabis diguyur hujan sehingga motor yang dikendarai oleh seorang relawan yang membonceng Riyatni tergelincir masuk ke selokan tersebut. Peralatan sosialisasi pun semuanya menjadi basah dan Riyatni terpaksa pulang dulu untuk ganti baju yang kotor akibat tergelincir tadi. Namun kejadian ini tidak mengendurkan semangat beliau untuk terus melakukan sosialisasi tingkat basis meskipun pulang ke rumah sekira pukul 12:00 WIT.
AKELAMO RAYA
“Akelamo” (atau dalam bahasa Indonesia berarti Sungai Besar) Raya adalah salah satu desa yang menajadi dampingan P2KP-3 berada di kecamatan Jailolo Timur kabupaten Halmahera Barat dan kecamatan Kao Teluk kabupaten Halmahera Utara. Satu hal yang tidak mungkin ketika ada 1 desa berada di 2 kecamatan dan 2 kabupaten yang berbeda, namun itulah kondisi yang terjadi di salah satu bagian dari Maluku Utara ini. Tarik menarik wilayah dan informasi lainnya tentang desa Akelamo Raya yang berpenduduk 100% muslim ini tergambar ketika tim fasilitator mengadakan koordinasi dengan kepala desa Akelamo Kao (Akelamo Raya, pen).
Sepanjang perjalan kami mengucapkan Subhannallah karena kami merasakan kebesaran Illahi sang Maha Pencipta akan keindah alam-Nya ketika pertama kali fasilitator akan masuk ke desa Akelamo Raya untuk berkoordinasi dengan kades. Entah mimpi apa kami semalam karena tak diduga dan tak dinyana dijalan kami dicegat/dihadang oleh beberapa kelompok pemuda desa yang dalam keadaan mabuk minuman kemudian kami ditanya “Apakah mendukung ke Halmahera Barat atau ke Halmahera Utara?” Jika memilih Halmahera Utara kami disuruh turun dan jika memilih Halmahera Barat kami dipersilahkan untuk jalan terus. Karena sebelumnya kami mengetahui informasi tentang tarik menarik antara Halbar dengan Halut terhadap masyarakat di enam desa yang salah satunya adalah desa Akelamo Raya.
Hal yang membantu kami ketika kami ditanya hal tersebut ialah karena kami mengetahui informasi bahwa pada dasarnya mayoritas masyarakat desa Akelamo Raya memilih dan menginginkan bergabung ke Halmahera Barat dengan alasan karena selama puluhan tahun semenjak nenek moyang mereka hidup menjadi bagian dari kesultanan Jailo yang sekarang menjadi ibu kota kabupaten Halbar. Selain hal tersebut informasi tentang pelaksanaan pemerintahan pun menginduk ke Halmahera Barat, maka berdasarkan informasi tersebut kami menjawab bahwa kami mendukung keinginan/aspirasi masyarakat, lalu kamipun mengatakan maksud dan tujuan kami ke sini ialah untuk bertemu dengan pak kades Akelamo Raya. Jawaban yang kami sampaikan pada sekelompok pemuda itu nampaknya membuat mereka menjadi sedikit ramah dan mempersilahkan kami untuk meneruskan perjalanan.
Akhirnya kamipun sampai dirumah pak kades setelah bertanya–tanya kepada masyarakat. Desa Akelamo Raya menurut pak kades sebelum dibukanya tambang mas di desa Dum–dum semua masyarakatnya 100% adalah nelayan namun seiring berjalannya waktu hasil tangkapan ikan nelayan semakin berkurang, salah satu factor penyebab berkurangnya hasil tangkapan ikan ialah karena perairan sudah tercemar limbah buangan tambang mas. Dampak dari tercemarnya perairan Akelamo Raya biantang-binatang laut seperti siput,udang dan kepiting sudah susah didapati lagi,bahkan menurut pak kades kerang adalah jenis yang paling tercemar. Informasi tercemarnya perairan Akelamo Raya ini berdasarkan hasil penelitian dari sebuah lembaga yang bernama Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara. Hasil laut yang semakin berkurang menyebabkan banyak masyarakat yang beralih profesi atau berusaha di darat, sehingga sekarang yang masih bertahan menjadi nelayan ± 40% saja, 5% nya adalah pegawai dan sisanya ada yang bertani atau berdagang.
Desa Akelamo Raya dengan jumlah penduduk 240 KK yang tersebar di 1RW dan 5 RT ini berbatasan dengan desa Pasir Putih dan desa Nusa Ambu (Halteng) di sebelah selatan, sebelah barat berbatasan dengan desa Tabobo (Halut), sebelah utara berbatasan dengan desa Dum – dum (Halbar) dan sebelah timur dibatasi oleh teluk Kao. Kondisi masyarakat desa Akelamo Raya saat ini sangat membutuhkan bantuan karena banyak dari mereka kehilangan pendapatan dan tidak tahu lagi harus berusaha apa karena laut yang dulu mampu menghidupi keluarga mereka sekarang tidak bisa lagi diandalkan, mungkin dengan masuknya P2KP pak kades dan segenap masyarakatnya berharap dapat menanggulangi kemiskinan yang selama ini membelit mereka,dan tidak lupa bahwa pak kades berharap kepada fasilitator untuk menyampaikan kepada pak presiden atau pemerintah pusat untuk melihat dan mendengarkan jeritan warganya yang menjadi korban dari kesewenang – wenangan perusahaan dan pejabat public yang tak pernah mendengar aspirasi warga desa akelamo raya yang tetap ingin berada diwilayah Halmahera Barat.
Kondisi politik yang ada sekarang menyebabkan siklus P2KP yang baru berjalan di desa Akelamo Raya adalah sosialisasi tingkat desa sedangkan untuk sosialisasi awal tingkat basis dan RKM masih menunggu kondisi masyarakat mulai reda, apalagi dengan adanya pemberitaan di salah satu surat kabar yang ada di Maluku Utara memberitakan bahwa Halut pun telah membentuk Kecamatan Kao Teluk dan melantik Camatnya membuat masyarakat Akelamo Raya (desa dimana kantor kecamatan Jailolo Timur berlokasi) semakin panas. Sulitnya masyarakat untuk berkumpul juga dipicu oleh kondisi di dalam desa sendiri dimana ada beberapa orang yang pro ke Halut, sehingga dikhawatirkan saat-saat masyarakat berkumpul diprovokasi sehingga terjadi perang kampung atau perang kelompok antara warga yang pro Halut dan warga yang pro Halbar. Satu hal yang cukup terasa dari kondiri pro dan kontra ini ialah nama “Akelamo Kao” menjadi “Akelamo Raya” karena etnis masyarakat Kao lebih mendukung ke kabupaten Halut, sehingga masyarakat mengusulkan untuk mengganti nama desa menjadi Akelamo Raya, selain hal tersebut masyarakat protes jika warga yang pro Halut diikutkan dalam kegiatan P2KP-3 meskipun warga tersebut tergolong miskin.
“Yaah…itulah realitas politik, selalu memakan korban khususnya kaum papa atau wong cilik, padahal yang bertikai adalah para penguasa pemegang dan pengatur politik”.
Kondisi politik vertical yang bisa saja menimbulkan kondisi konflik horizontal ini dapat menjadi pertimbangan bagi pemegang kebijakan P2KP-3 karena dikhawatirkan akan berimbas terhadap kegiatan dilapangan, semisal “SK PJOK” siapakah yang berhak ?, karena di satu wilayah ada dua kecamatan dan pimpinannya masing-masing di angkat oleh Bupati yang berbeda. Sedangkan P2KP-3 tidak berada pada salah satu sisi dari dua sisi ini.




